Tip perkebun Kakau/coklat, kopi dan kelapa sawit


Berkebun Kakao, Kopi, Teh dan Kelapa Sawit

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Sektor perkebunan merupakan sektor yang sangat menjanjikan dalam pengadaan kebutuhan komoditas perkebunan dunia. Hasil penelitian studi pengembangan perkebunan yang dilakukan oleh IPB tahun 1981, tanaman perkebunan yang direkomendasikan untuk dikembangkan adalah : karet, kelapa, kelapa sawit, lada, kopi, te, cengkeh, kakao dan tebu.
Diantara itu tanaman kopi, kelapa sawit, kakao, dan the, Indonesia mempunyai potensi dan berprospek baik untuk kegiatan pengembangan perekonomian dimasa yang akan datang.Mengingat semakin pentingnya penggunaan ruang (lahan/tanah) oleh berbagai sektor pembangunan serta untuk optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam, Pemerintah pemerintah pada Tahun 1993 menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) dan untuk pengembangan perkebunan dicadangkan seluas 1.700.000 Ha untuk pembangunan jangka panjang 15 tahun (1993–2008). Dari lahan yang dicadangkan seluas 1.700.000 Ha sampai tahun 2002 telah tertanam perkebunan berbagai jenis tanaman seluas 715.079 Ha dan sisa lahan sebagian besar telah dicadangkan untuk perusahaan perkebunan dalam bentuk ijin arahan lokasi, ijin lokasi dan atau pelepasan kawasan hutan.
Komoditas perkebunan yang dikembangkan tengah tercatat 14 jenis tanaman, dengan karet dan kelapa sebagai tanaman utama perkebunan rakyat (342.011 Ha/50%, 68.938 Ha/10,2%) dan kelapa sawit sebagai komoditi utama perkebunan besar yang dikelola oleh para pengusaha perkebunan baik sebagai Perkebunan Besar Swasta Nasional/Asing ataupun PIR-Bun KKPA (Kredit Koperasi Primer untuk Anggotanya). Para pengusaha perkebunan juga mengembangkan tanaman karet, kakao dan lada, namun tidak berkembang sejak tahun 1995.
Peran kelapa sawit terhadap proses pembangunan di Indonesia sampai saat sekarang sudah menunjukan pengaruh/manfaat yang nyata antara lain:
1. Pendapatan Asli Daerah bagi Pemerintah Kabupaten,
2. Kontribusi dari PBB/BPHTB/Retribusi.
3. Penyerapan Tenaga Kerja.
4. Pengembangan Wilayah.
5. Sektor Ekonomi/Jasa berkembang dan tumbuh (pedagang, transportasi, telekomunikasi, perbankan).
6. Pemanfaatan SDA berupa lahan/tanah.

Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi. Perusahaan-perusahaan perkebunan berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan.
Tanaman Kopi merupakan tanaman yang sangat familiar di lahan pekarangan penduduk pedesaan di Indonesia. Jika potensi dahsyat ini bisa kita manfaatkan tidaklah sulit untuk menjadikan komoditi ini menjadi andalan di sektor perkebunan. Hanya butuh sedikit lahan dalam pembentukan perkebunan kopi ini agar efektif. Perkebunan kopi harus mampu mewujudkan harapan bersama dengan paket panduan teknis dan produk tanpa melupakan Aspek K-3 yaitu kuantitas, kualitas dan kelestarian yang kini menjadi salah satu syarat persaingan di era globalisasi.
Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.Perkebunan kakao terbanyak diolah oleh petani-petani kecil menengah, agar mampu meningkatkan produktivitasnya agar dapat bersaing di era globalisasi dengan program peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas, berdasarkan konsep kelestarian lingkungan pemerintah harus mendukung usaha petani ini.

1.2. Tujuan Praktikum

a. Melakukan pemeliharaan terhadap tanaman kopi, kakao, teh dan kelapa sawit
b. Melakukan taksasi produksi kakao.
c. Mempermahir kemampuan kemampuan dan keahlian budidaya kopi, kakao, teh dan kelapa sawit.
d. Mengembangkan teori yang diperoleh dikelas dengan melatihnya di kebun
e. Membandingkan teori yang didapat dikelas dengan kenyataan yang dihadapi dilapangan praktikumMenarik kesimpulan dari pelaksanaan praktikum untuk bekal dimasa yang akan datang.
I. BAHAN DAN METODE

2.1. Tempat dan Waktu

Kebun percobaan cikabayan – IPB Dramaga selama 2 jam praktikum.

2.2. Bahan dan Alat

Bahan
1. Pupuk (UREA, MOP, SP-18 dan KCL)
2. Herbisida ( Gramoxone dan Roundup 480 SL )
Alat
1. Cangkul 7. Meteran
2. Garpu 8. Ember
3. Sabit 9. Takaran pupuk
4. Golok 10. Sprayer (set)
5. Gergaji pangkas 11. Sarung tangan
6. Gunting pangkas

2.3. Cara Pelaksanaan

2.3.1. Kopi
1. Persiapan alat dan bahan.
2. Pembersihan piringan dengan menggunakan alat yang tersedia.
3. Pembuangan cabang dan tunas yang tidak berguna (tunas air, tunas balik, tunas cacing dan cabang kipas ).
4. Satu minggu kemudian dilakukan pembuatan alur pupuk dan pemupukan (dosis pupuk urea, pupuk SP-18 dan pupuk KCL @ 600 gr).

2.3.2. Kakao
1. Persiapan alat dan bahan.
2. Pembersihan piringan dengan menggunakan alat yang tersedia
3. Pembuangan cabang dan tunas yang tidak berguna (tunas air, tunas balik, tunas cacing dan cabang kipas ).
4. Satu minggu kemudian dilakukan pembuatan alur pupuk dan pemupukan (dosis pupuk urea, pupuk SP-18 dan pupuk KCL @ 600 gr).
5. Taksasi produksi ( hitung jumlah berdasarkan ukuran panjang buah <10cm,> 15 cm).

2.3.3. Teh
1. Persiapan alat dan bahan.
2. Pemangkasan bentuk 1 dengan tinggi 60 cm.
3. Pembersihan piringan dengan menggunakan alat yang tersedia.
4. Pemangkasan bentuk 2 dengan tinggi 65 cm.
5. Pembuatan alur pupuk dan pemupukan (dosis UREA 50 gr/ph, SP-18 30gr/ph dan MOP 20gr/ph ).
2.3.4. Kelapa sawit
1. Persiapan alat dan bahan
2. Pembersihan piringan dengan menggunakan alat yang tersedia
3. Pembuatan alur pupuk dan pemupukan

3.2. Pembahasan

Prestasi kerja diatas dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari segi internal pekerja maupun eksternal mahasiswa, dari segi internal seperti motivasi mahasiswa dalam bekerja, kesehatan mahasiswa dan ukuran fisik mahasiswa. Sedangkan faktor internal dapat berupa; ketajaman peralatan yang digunakan, jenis tanaman yang dibersihkan dan keadaan lingkungan disaat bekerja.
Berikut data rataan luasan pekerjaan pengendalian gulma yang terselesaikan tiap jenis pekerja:
Secara manual : 461,60 m2/HK
Menggunakan herbisida semprot : 5074,02 m2/HK
Secara wiping : 176,81 jumlah alang-alang/HK
Dari data diatas kita ketahui bahwa untuk areal yang luas lebih efisien pengendalian gulma menggunakan herbisida semprot, sedangkan untuk pekerjaan wiping sangat bergantung pada kontur lahan, yang terbaik adalah lahan datar. Hal ini untuk mempermudah mengamati dan menjangkau areal yang ditumbuhi alang-alang.
Prestasi kerja pada saat pratikum pemupukan sebagai berikut:
Lahan kopi : 137,45 pohon/HK
Lahan kakao : 91,36 pohon/ HK
Lahan teh : 98,67 pohon/HK
Lahan kelapa sawit : 32,39 pohon/HK
Prestasi kerja ini dipengaruhi oleh jenis tanaman yang dipupuk, jenis pupuk, dosis pupuk cara pemupukan dan waktu pengaplikasian.
Berikut ditampilkan rataan prestasi kerja pemangkasan di lahan praktikum:
Tanaman kopi : 41,73 pohon/HK
Tanaman kakao : 91,36 ponon/HK
Tanaman teh : 98,67 pohon/HK
Tanaman kelapa sawit : 32,39 pohon/HK
Dari data prestasi kerja diatas, prestasi yang tertinggi pada lahan teh, hal ini karena pada lahan teh pekerjaan lebih mudah dilakukan. Sedangkan prestasi kerja yang terendah pada lahan kelapa sawit, dikarnakan begitu banyaknya pelepah yang tidak dipangkas yang masih menempel pada batang kelapa sawit.
Angka taksasi pada tanaman kakao dipengaruhi oleh perawatan dan pemelihaan kebun kakao tersebut, yaitu meliputi kegiatan pembersihan gulma, pemupukan, pemangkasan dan kegiatan lainnya.

III. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Setelah melakukan praktikum mata kuliah Teknik Perkebunan 2 dilapangan praktikum Cikabayan IPB, kami menyimpulkan beberapa hal, diantaranya:
1) Untuk mendapatkan hasil pertanian yang baik terutama dibidang perkebunan harus menerapkan perilaku disiplin yang tinggi disegala bidang pekerjaan.
2) Hal yang paling menyulitkan dalam perkebunan merupakan pengelolaan tenaga kerja, apabila kurang memahami ilmunya.
3) Lahan perkebuna yang baik dapat tercipta apabila semua pihak bekerjasama mewujutkannya.
4) Ternyata kenyataan yang dihadapi dilapangan sangat jauh berbeda dengan teori yang diajarkan di kelas, hal ini merupakan pelajaran yang sangat berarti bagi kami

3.2 Saran

Saran yang dapat kami sampaikan:
1. Untuk kegiatan praktikum berikutnya mohon pembagian kerja dan luasan areal lebih jelas lagi.
2. Peralatan yang digunakan mohon diperbaiki yang sesuai dengan stantard untuk kerja dikebun.
3. Perlengkapan peralatan mohon ditambah dan tidak beli alat yang kurang bermutu.

DAFTAR PUSTAKA
Barus Emanuel,” Pengendalian Gulma di Perkebunan”. Kanisius. Yogykarta .2003.
Najiyati Sri, dkk. “Kopi-Budidaya dan Penanganan Pascapanen”.Penebar Swadaya. Bogor. 2007.
Pahan, Iyung. 2008. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Jakarta: Penebar Swadaya
Lingga Pinus. ,”Petunjuk Penggunaan Pupuk”. Penebar Swadaya. Bogor. 2008.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit. “Budidaya Kelapa Sawit”. (Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit,2003)
Setyamidjaja, Djoehana,”Teknik Budi Daya, Panen dan Pengolahan”. Kanisius. Yogykarta .2006.
http://www.budidaya-kakao.html.ac.id/
http://www.budidaya-kelapa-sawit.html.ac.id/
http://www.budidaya-kopi.html.ac.id/

Advertisements

2 Responses

  1. mas sekalian buka bolehkan titik nanya lagi. ini ada kaitanya pertanyaan tentang gula jawa trus nyambung kesini.

    Kalau daerah sana emang sudah ada yang menanam pohon kakao/coklat itu mas? itu sebenernya bagus mas bila dikembangkan disana kan udah ada Industri rumah tangga yang membuat Gula merah kelapa. dan bila disana itu para petaninya juga menanam pohon kakao/coklat itu bener mas, sebab kedua-duanya sudah bisa untuk modal membuat makanan kas sana, atau sebagai sumber bahan makanan contoh kue dan minuman. saya kira itu aja mas. sampai ketemu lagi.

    • Betul cuma sayangnya pemerintah sana tu tidak ada perhatian, ya seharusnya ada sih penyluhan berapa bulan sekali ke warga sana supaya meningkat produksinya itu tapi tidak ada disana bener-bener hanya kebiasan turun temurn saja. dan hanya diperhatikan itu apa bila ada suatu acara atau apa tapi disisi lain tidak ada penyuluhan 2x toh jelas-jelas itu sebagai pendapatan andalan masyarakat Gunturharjo dan sekitarnya. itulah kurangnya penyuluhan oleh pihak yang bersangkutan di daerah dan apa lagi untuk menciptakan dan memberi sulusi bahwa daerah itu tidak pernah ada. maka saya mempunyai niat untuk mengenalkan ke masyarakat sana menanam pohon kakao/pohon coklat dan saya rasa daerah sana juga cocok ditanamin pohon kakao kenapa tidak dicoba terlebih dahulu baru bilang tidak cocok. ya dak tik?…….dan bener titik klo keduanya ada ya pasti petani saya akan mendapat penghasilan yang lebih baik. sebab tanaman kakao/coklat panennya terus menerus silih berganti. dan ada jenis pohon kakao yang cepat menghasilkan tidak perlu harus nunggu sampai bertahun2x malah lebih cepat menanam pohon kakao dari pada menanam pohon singkong yang umurnya untuk dipanen lebih lama. ya itu semua menurut analisa saya dan saya melihat di daerah-daerah luar pulau jawab. dan saya juga perpikir bahwa tanah atau lahan – lahan masih banyak yg bisa dimanfaatkan kenapa tidak dicoba dengan tanaman kakao yang rawatanta dan sistem tanamnya juga sistem tumpang sari bisa. saya kira itu yg saya bisa sampaikan buat pertanyaan titik apabila tidak sesai mohon maaf karena saya bukan pakarnya cuma apa yang saya dapat pengalam saya untuk diterapkan ke daerah saya asal. guna membantu meningkatkan pendapatan para petani sana. atas kunjungan dan pertanyaan saya ucapin terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: